Eksotisme Teluk Mayalibit Weigo Raja Ampat

http://www.ejawantahtour.com/2014/10/eksotisme-teluk-mayalibit-weigo-raja-ampat.html Eksotisme Teluk Mayalibit Weigo Raja Ampat.- Teluk Mayalibit bagaikan membelah Pulau Weigo Raja Ampat menjadi dua, dan posisinya berada di tengah-tengah Pulau Weigo. Tidak hanya pulau-pulau kecil, teluk Mayalibit juga dihuni masyarakat yang beragam. Dinaungi Gunung Nok, alam raya yang berkembang di teluk menopang kehidupan manusia. Hutannya lebat dan dilindungi, terdapat tanaman anggrek, avifauna, ikan dan tumbuhan berkayu endemik. Ada juga ikan lema, ebi, sagu, dan jasa lingkungan yang berlimpah.

Mulut teluk Mayalibit Weigo Raja Ampat memiliki ruang masuk yang sempit, namun untuk bagian dalam teluk melebar dan memanjang. Dan hanya memiliki satu pintu masuk, satu perairan terbuka, tanpa jalan keluar. Seperti perairan yang tertutp, sekaligus unik.

Dari permukaan teluk kita akan melewati Kampung Warsambi yang menjadi ibu kota Distrik Teluk Wayalibit yang berada di daerah pesisir Waigo Raja Ampat. Tanah menanjak tampak terbuka di belakang permukiman Warsambin.

Pada posisi mulut teluk Mayalibit kita akan menmukan dua arah aliran arus teluk, yang pertama bagian selatan dan utara. Atau sisi kiri dan kanan perahu dari arah pintu teluk, dengan beberapa pulau kecil, yaitu Yef Manil, Yef Manil Genan, dan Yef Manil Genan Lu.

Berjalan pelan namun pasti, perhua menyusuri cela sisi kiri yang sempit namun dalam. Selat sempit ini diapit daratan barat Pulau Weigo di selatan dan Yef Waiwah di utara. Yaf waiwah yang merupakan pulau yang terbesar dari seluruh pulau-pulau yang ada di dalam teluk. Pulau ini ditumbuhi vegitasi hutan, dengan sejumlah titik pantainya yang ditemubuhi hutan mangrove.

Kampung Lopintol terdapat di tanjung kecil yang menghadap Yef Waiwah. Lopintol berarti tiga perempuan atau tiga juga tiga muara. Kampung ini tampak tentram dengan latar beakang hutan Pualu Weigo dan menghadap Yef Waiwah Raja Ampat.

Baca juga : Belajar Dari Kearifan Masyarakat Lopintol Raja Ampat.

Di gerbang kampung Lopintol tertulis "Ma Mbilin Basef Kalana Fat", yang artinya mari membangun Raja Ampat. Dan di samping sebelah kanan gerbang terdapat sebuah masjid di tepi jalan lapang selebar dua meter. Selokan lurus dan rapi membatasi sisi kiri dan kanan jalan. Kampung ini hanya di huni beberapa kepala keluarga, dan hanya ada sekolah dasar sehingga anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah SMP harus ke Warambin datau Wasai.

Raja Ampat Papua Barat merupakan tempat destinasi yang indah, dibalik setiap keindaha alamnya, kita pun dapat menikmati kearifan budaya lokal yang memberikan sebuah pembelajaran hidup dengan konsep dasar sederhana namun memiliki arti dan manfaat yang besar berdampak luas, agar keindahan dan keimbangan alam selalu dapat terjadi dengan baik. Selamat menikmati Eksotisme Teluk Mayalibit Weigo Raja Ampat.[]



Salam wisata,

Traveling Kota Tua Di Pulau Dum Papua Barat

http://www.ejawantahtour.com/2014/09/traveling-kota-tua--pulau-dum-papua-barat.html Traveling Kota Tua Di Pulau Dum Papua Barat.-  Dum atau Doom salah satu Pulau dekat Kota Sorong Papua Barat. Konon Pualu Dun memiliki riwayat perjalanan sejarah yang panjang dalam peradaban manusia modern sejak lama dan telah masuk dalam peta kolonial Belanda pada abad ke-19. Dan kota ini berpotensi sebagai salah satu tempat wisata di kawasan Papua sebagai salah satu obyek wisata yang memiliki nilai sejarah dan memiliki pesona pemandangan alam yang indah.

Wilayah ini berkembang pesat setelah Belanda membangun semua keperluan dan kebutuhan pemerintah kolonial Belanda pada masa Perang Dunia II, dan pernah menjadi salah satu basis milter Jepang setelah berhasil mengalahkan Belanda. Itu sekilas informasi catatan perjalanan sejarah dari Pulau Dum.

Jejak peninggalan sejarah dari kolonial dan tetntara Jepang pun masih bisa kita lihat di Pulau Doom, dan bagi para wisatawan penikmat wisata sejarah tempat ini sangat mengsyikan, suasana kolonial Belanda yang terdapat di Pulau ini membuka sebuah fantasi kita untuk ikut tengggelam dalam nuansa jaman dulu.

Bila masayrakat kota mengenal dengan kendaraan taksi dari kendaraan mobil, di sini yang dijadikan sebagai taksi adalah sebuah perahu-perahu boat kecil. Di mana perahu-perahu tersebut bersandar di pinggiran dermaga yang sedang berlabuh selayaknya sebuah terminal yang riuh rendah.

Taksi laut itulah yang akan menghantarkan warga Dum yang ingin ke Kota Sorong untuk bekerja atau pun belanja untuk keperluan harian. Jarak waktu tempuh dari Kota Sorong ke Pulau Dum dengan menggunakan taksi laut sekitar +/- 15 menit, dengan tarif Rp. 4000,- / orang. Jasa angkutan taksi laut ini berlangsung 24 jam. Namun, bila menggunakan taksi laut ini pada malam hari biayanya tidak sama dengan siang hari, karena penumpangnya tidak banyak, dan tarif angkutnya Rp. 30.000,- / orang.

Sebagai tambahan informasi, bisnis taksi laut di kawasan ini berkembang sejak ada bisnis transportasi lau antara bekas Bandar Udara Yef man menuju Sorong. Mulai saat itulah bisnis rental perahu Yet Man ke Sorong pulang pergi di kelola bagi sebagian masayrakat Dum. Dan biaya sewa pada waktu itu berkisar Rp. 300.000,- / orang. Namun, setalah Bandar Udara Yat man ditutup, bisni usaha transportasi laut di kawasan ini menjadi sepi. Dan kini sebagian warga masyarakat beralih usaha rental mobil dari Kota Sorong ke kawasan Sorong Selatan, dan sebagian lainnya melayani paket wisata untuk menuju Raja Ampat.

Baca juga : Mengenal Wisata Papua Barat.

Lanjut......
Setalah mendarat di Paalu Dum, kita akan akan dijemput dengan becak-becak yang sudah mengantri penumpang, dan siap mengantarkan kita untuk traveling Kota Tua Di Pulau Dum Papua Barat ini, atau pun untuk keperluan lainnya. Di daerah ini becak menjadi salah satu kekhasan pulau ini. Dengan biaya ongkos Rp 30.000,- sampai Rp. 50.000,-  kita akan di hantar berkeliling dan jalan-jalan ke seluruh penjuru Dum. Namun, bagi kita yang suka dengan berjalan kaki, kota Dum ini bisa kita jelajahi dengan santai, karena tidak terlalu luas kawasan kota ini.

Masyarakat dan penduduk di kawasan Dum berasal dari berbagai etnis dan suku. Ada yang dari Nusa Tenggara, Jawa, Tionghoa dan Makasar.. Selama perjalanan dari Kota Sorong, Pulau Dum terlihat seperti dipadati rumah-rumah warga. Sebgian rumah masih berada di atas perairan, namun pemukiman warga sebgaian pula sudah memadati daerah kawasan daratan.

Infromasi yang saya terima dari beberapa tokoh masyarakat di lokasi, nama asal mula Dum bermula dari Maladu dari bahasa Moi. Mla berarti gunung; dan dum berarti geloban. Lengkapnya Meladum berarti gunung yang ditumbuhi geloban (yaitu sejenis tumbuh-tumbuhan atau tanaman).

Ada banyak hal yang dapat kita temukan Dum, salah satunya adalah bangunan jaman Belanda yang terletak di antara pemukiman dan daun yang tumbuh dengan lebat di kawasan ini, di sana terdapat sebuah komplek wsarisan jaman kolonial Belanda yang tertata rapih dengan tembok tebal dan kokoh yang di diami warga Dum. Konon, dulunya bangunan tersebut digunakan kolonial Belanda sebagai kantor, gudang dan pemukiman. Dan fasiltas publik masih membekas di sejumlah sdut Dum seperti jaringan air bersih, listrik, dan hunian warga dari keturunan orang Tiongkok.

Lanjut.........
Menurut informasi, dulunya Dum menjadi pusat kolonial Belanda yang di lengkapi fasilitas penunjang. Dan Belanda mulai membangun kawasan ini menjadi daerah pemukiman pada tahun 1908, kemudian disusul oleh orang Malaku yang menjalankan misi agama dengan kegiatan gereja. Hal inilah yang menjadikan kawasan Dum menjadi berkembang dan menjadi pangkalan strategi bagi Belanda sebelum peradaban menyentuh Sorong, di mana Kota Sorong masih berupa hutan belantara.

Dalam catatan perjalanan sejarahnya Dum terkenal dengan sebutan "The Haven van Doom", dan dikenal sebagai tempat niaga hasil laut dan kopra  Hingga kini gudang penyimpanan kopra masih dapat kita temukan di kawasan Dum, bila kita traveling kota tua di Pulau Dum Papua Barat kita dapat temukan gedung tersebut.

Sedangkan untuk lokasi yang paling tertua di Papua ada di kawasan Dum ini dan lokasi ada di  lapangan sepak bola. Dan bangunan Gedung Kesenangan buat berdansa pun hingga kini masih berdiri kokoh dan dihuni oleh satu keluarga, di bangun dari kayu besi dan msaih terdapat sisa-sias meja bar untuk melayani para tentara Belanda dulunya.

Sebuah banguanan rumah ibadaa gereja berwarna kuning yang berdiri pada tahun 1911 dengan dinding pelepah sagu yang kini tidak berfungsi lagi sebagai tempat ibadah, dan hanya sebagai tempat Pusat Pembinaan Warga Gereja Jemaat Bethel Dum. Sedangkan untuk aktifitasnya ibadahnya kini di pindah di atas puncak bukit Pulau Dum.

Banyak kisah dan cerita dengan peninggalan situs-situs bangunan tua di kawasan Dum yang bisa kita nikmati pada saat traveling di kota tua kawasan Papua Barat. Setelah puas berkeliling di kawasan Dum, kita bisa berlanjut ke pulau-pualu di sekitar kawasan ini, seperti Raam, Soop, hingga Yef Man dekat dengan Sorng yang menjadi tujuan pertama sebeluk ke Raja Ampat. Pulau yang padat ini bisa mejadi sebuah selingan perjalanan wisata kita pada saat kita berkunjung di kawasan Papua Barat.

Baca juga : Belajar Dari Kearifan Masyarakat Lompitol Raja Ampat.

Sebagai catatan, bila kita berkunjung ke kawasan Pulau Dum Papua Barat, jangan lupa untuk mencoba makanan khas tradisionalnya, apalagi bila kita bisa mencicipi jenis kuliner yang terbuat dari sukun yang diberi dengan gula kelapa itu rasanya enak banget di lidah loh.....

Semoga artikel perjalanan wisata ini dapat menjadi sebuah acuan bila para sahabat atau pun pembaca setia Ejawantah Wisata yang akan melakukn aperjalanan wisata di kawasan daerah timur Indonesia yang dikenal sebagai salah satu surganya dunia yang masih asri dan indah. Dan salah satunya kita bisa melakukan Traveling Di Kota Tua Pulau Dum Papua Barat.[]



Salam wisata,

MENGENAL DAERAH WISATA PAPUA BARAT

http://www.ejawantahtour.com/2014/05/mengenal-daerah-wisata-papua-barat.html
Mengenal Wisata Daerah Papua Barat. - Propisi Papua Barat merupakan salah satu propinsi yang berada di wilayah Indonesia Timur, dan memiliki potensi alam seperti pertanian, pertambangan, hasil hutan maupun pariwisata.

Hasil kerajinan Papua Barat yang cukup di kenal oleh wisatawan domestik dan mancanegara adalah mutiara dan rumput laut yang dihasilkan di Kabupaten Raja Ampat, sedangkan satu-satunya industri tradisional tenun ikat yang disebut kain Timor yang dihasilkan di kabupaten Sorong Selatan.

Wisata alam di daerah Papua Barat juga menjadi salah satu andalan, antara lain taman laut di Raja Ampat yang konon menurut cerita para wisatawan yang pernah melakukan penyelaman di kawasan Raja Ampat ini, tempat ini memiliki taman bawah air yang paling indah di dunia.

Lanjut........
Setelah Taman Laut Raja Ampat Papua Barat juga memiliki daerah wisata alam yang indah yaitu Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih dikenal dengan taman nasional yang memiliki perairan terluas di Indonesia, perairan yang membentang dari Timur Semenanjung Kwatisore sampai utara Pulau Rumberpon dengan panjang garis pantai 500 km, dan luas darat mencapai 68.200 ha, luas luas darat mecapai 68.200 ha, luas laut 1.385.300 ha dengan rincian 80,000 ha kawasan terumbu karang dan 12.400 ha lautan.

Hal yang menarik di kawasan Taman Cendrawasi ini, di kawasan ini telah ditemukan sebuah gua yang diklaim sebagai gua terdalam di dunia oleh tim ekspedisi speologi Perancis di kawasan Pegunungan Lina, Kampung Irameba, Distrik Anggi, Kabupaten Manokwari. Konon gua ini diperkirakan mencapai kedalaman +/- 2.000 meter.

Lanjut.....
Dari informasi yang bisa kita dapatkan di kawasan Propinsi Papua Barat terdapat banyak suku bangsa dengan bahasa yang berbeda-beda. Bahkan dalam satu suku bangsa yang memilki beberapa bahasa. Di mana wilayah Papua Barat ini tidak identik dengan wilayah budaya dari masing-masing, karena suku bangsanya tersebut menyabar di beberapa kabupaten.

Suku bangsa masyarakat Papua Barat terdiri dari ;
  1. Suku bangsa Arfak yang mendiami pegunungan Arfak di Kabupaten Manokwari hingga Teluk Bintuni.
  2. Suku banga Doteri yang merupakan suku bangsa migran dari Pulau Numfor di wilayah pesisir Kabupaten Teluk Wondama bersama suku bangsa Kuri, Simuri, Irarutu, Sebyar, Moscona, Mairasi, Kambouw, Onim, Sekar, Maibrat, Tehit, Imeko, Moi, Tipin, Maya, dan suku bangsa Biak.
Lanjut...........
Mata pencaharian penduduk asli Papua Barat adalah sebagai nelayan dan petani tradisional. Dan makanan asli masyarakat Papua Barat adalah sagu dan ubi-ubian. Selain masyarakat asli Papua Barat di daerah ini juga terdapat suku bangsa lainnya dari berbagai pelosok nusantara yang hidup berbaur seperti Jawa, Bugis, Batak, Dayak, Manado, Key, dan Tionghoa. Kehidupan tradisional masyarkat asli Papua Barat masih dapar dijumpai di kampung tiap daerah dengan adanya kepala suku sebagai pimpinan suku mereka.

Lanjut.............
Wilayah Papua Barat merupakan daerah pekabaran Injil dan juga syair Islam. Hal ini  dapat kita ketahui dari keberadaan Kabupaten Manokwari yang mendapat julukan sebagai Kota Injil, konon menut catatan sejarah Kota Manokwari ini sebagai pintu gerbang masuk pertama kalinya Injil masuk ke Tanah Papua melalui Pulau Mansinam yang terletak di wilayah Kabupaten Manokwari.

Salah satu daerah yang paling menarik di kawasan Papua Barat yang bisa kita telusuri adalah daerah di Kabupaten Raja Ampat, di mana di daerah kawasan ini terdapat sebuah Kampung Lopintol yang terletak di teluk Mayabith. Di sana kita dapat belajar atau pun mengetahui dari dekat kearifan tradisi budaya dari kehidupan masyarakatnya yang unik, namun sangat cerdas sekali. ( Baca : Belajar Dari Kearifan Masyarakat Lopintol Raja Ampat )

Hal yang menarik di kawasan Papua Barat ini kita bisa menemukan sisa-sisa peradaban masa lalu yang masih bisa dijumpai di daerah Fakfak dan Kaimana berupa lukisan purba bermotif telapak tangan manusia tumbuhan, dan hewan yang dilukis didinding-dinding pulau karang.

Mengenal Wisata Daerah Papua Barat akan membuat kita mengetahui betap besar potensi alam, tradisi budaya dan sejarah bangsa Indonesia yang membentang dari Sabang samapai Merauke ini. Dan ini merupakan daerah yang memiliki tempat wisata Indonesia yang indah, seindah syurga di belahan sisi dunia.




Salam wisata,

Sumber :
Litbang Dephut Propinsi Papua.

BELAJAR DARI KEARIFAN MASYARAKAT LOPINTOL RAJA AMPAT

http://www.ejawantahtour.com/2014/05/belajar-dari-kearifan-masyarakat-lopintol-raja-ampat.html
Kepulauan Raja Ampat merupakan surga Bahari yang terdapat di daerah Indonesia Timur. Di mana air lautnya sebening kristal dengan biota laut yang sangat kaya di dalamnya.

Raja Ampat memiliki trumbu karang terbanyak dan terlengkap di dunia, maka tidaklah heran bila kia dapat menemukan aneka jenis ikan melimpah ruah di kawasan ini.

Di daerah ini ikan sangat mudah di cari dan menjadi sumber mata pencarian di masyarakat. Nelayan di daerah ini memiliki cara sederhana dan unik untuk menangkap ikan di malam hari, tanpa alat pancing ata pun melempar jala, namun hasil tangkapan ikan yang di perolehnya sangat banyak.

Di kawasan Raja Ampat terdapat sebuah Kampung Lopintol yang terletak di teluk Mayalibith dan di Pulau Weigeo. Di mana kita dapat sampai di lokasi ini harus melalui jalan laut dengan menggunakan perahu motor dari daerah Wasai yang akan memakan jarak tempuh waktu +/- 30 menit.

Pada awal perjalanan kita akan melewati 20 menit pertama dengan melihat pemandangan yang cukup biasa-biasa saja, namun setelah kita memasuki kawasan daerah teluk Mayalibith kita akan menyaksikan sebuah suguhan pemandangan alam yang akan membawa diri kita melihat pemandangan surga yang berada di bagian belahan Indonesia ini.

http://www.ejawantahtour.com/2014/05/belajar-dari-kearifan-masyarakat-lopintol-raja-ampat.html

Air laut yang hijau dan di kelilingi oleh kepulauan kecil pegunungan batu yang menghiasi lukisan alam sekitar kita yang akan mengantarkan kita hingga menuju ke lokasi dermaga kecil di daerah perkampungan Lopintol di kawasan teluk Mayalibith di Pulau Weigeo ini.

Sebuah pintu gerbang dengan ciri khas masyarakat setempat akan menyambut kehadiran kita di Kampung Lopintol yang merupakan sebuah perkampungan dimana seluruh warganya bekerja sebagai nelayan.
http://www.ejawantahtour.com/2014/05/belajar-dari-kearifan-masyarakat-lopintol-raja-ampat.html

Pada siang hari kampung Lopintol ini terlihat sepi, karena sebagian besar penghuni kampung ini bekerja pada malam hari sebagai nelayan, dan siang hari waktunya dipergunakan sebagai waktu beristirahat.

Menjelang petang atau sore hari, warga kampung ini diseibukan menyalahkan lampu petromak untuk mencari ikan. Ketika hari mulai gelap, satu persatu warga berangkat menuju ke perairan teluk untuk mencari ikan.

Informasi dari warga setempat, masyarakat di sini mencari ikan di malam hari tanpa menggunakan alat pancing atau jala di laut. Dan prosesnya pun dengan menggunakan kapal perahu kecil yang di dayung mereka berangkat dengan sebuah lampu petromak untuk menggiring ikan laut ke tempat penampungan yang telah disiapkan oleh warga di tepi pantai dekat desa mereka, Setalah ikannya berhasil mereka giring dan terkumpul, barulah mereka ambil di tempat itu. Unik bukan ? ? ?.....

Selain caranya yang unik dan cukup mudah, teknik penangkapan ikan yang di lakukan oleh warga pedesaan Lopintol, Mayalibith, Raja Ampat ini terbilang sangat ramah lingkungan. Karena untuk mendapatan hasil sebuah tangkapan ikan yang melimpah, mereka tidak perlu merusak alam.

Belajar Dari Kearifan Masyarakat Lopintol Raja Ampat akan mengajarkan kita akan sebuah nilai kearifan yang adapat di ditiru dan di contoh, bahwa dengan ekosistem yang terjaga, maka alam akan bermurah hati memberikan kemudahan dan manfaat besar bagi kehidupan masyarakat sekitarnya. Semoga bermanfaat.




Salam wisata,

EKSOTISME RUMAH ADAT PAPUA

http://www.ejawantahtour.com/2014/05/eksotisme-rumah-adat-papua.html
Eksotisme Rumah Adat Papua. Rumah adat suku Honai merupakan rumah adat dengan arsitektur yang sederhana, rumah adat ini dapat kita temukan di lembah dan pegunungan di bagian tengah Pulau Papua Puncak Jaya. Daerah tersebut memiliki hawa udara yang cukup dingin, yang pada umumnya terletak diketinggian 2.500 meter dari permukaan laut. Hal inilah yang membuat rumah adat Papua Honai ini di rancang bulat dan pendek agar berfungsi untuk bisa meredam hawa dingin dari tiupan angin kencang daerah pegunungan.

Dari informasi yang saya terima di lokasi melalui lokasi ini kita bisa mengetahui bahwa rumah adat ini sepenuhnya terbuat dari bahan yang berada di alam sekitaran pegunungan yang mudah ditemui, di mana bila kita lihat dinding rumah adat Papua Honai ini terbuat dari material kayu dan atap rumahnya terbuat dari jerami atau ilalang, dan bentuknya berfungsi untuk melindungi seluruh permukaan dinding agar tidak terkena air hujan dan dapat meredam hawa dingin untuk tidak mudah masuk ke dalam rumah. Rumah ini hanya memiliki satu bilik pintu dan tanpa jendela, dengan ketnggian bangunan +/- 2,5 meter dengan tiang-tiang penyanggah dari kayu yng berada di tengah-tengah ruang dalamnya.

http://www.ejawantahtour.com/2014/05/eksotisme-rumah-adat-papua.html

Bila kita perhatikan sisi ruang tengah dalam rumah adat Papua, ditengahnya terdapat sebuah galian tanah yang berfungsi sebagai tungku perapian yang berfungsi sebagai penerangan, dan bara api yang di hasilkan bisa di manfaatkan sebagai penghangat tubuh.

Masyarakat asli Papua yang bermukim di rumah adat ini, biasanyanya mereka tidur hanya beralaskan rerumputan kering yang dibawa dari kebun atau ladang. Mereka tidur tanpa dipan atau kasur seperti apa yang bisa kita nikmati dalam kehidupan masyarakat modern ini.

Lanjut informasi yang saya terima.......
Eksotisme rumah adat Papua dari rumah Hanoi ini bisa kita lihat terdapat terdiri dari 3 jenis, Di mana terdapat rumah untuk para kaum lelaki yang disebut Honai, dan rumah untuk para wanita yang disebut dengan nama Ebie, dan rumah untuk ternak mereka sendiri disebut dengan Wamai.

Masyarakat Papua  memiliki sebuah tradisi atau pun kebiasaan dengan menernak hewan babi, dan mereka selalu membuatkan rumah atau kandang sendri khusus hewan ternak mereka yang posisinya tidak berjauhan dengan rumah yang mereka huni, dan bagi masayrakat Papua ternak merupakan harta yang sangat berharga.

http://www.ejawantahtour.com/2014/05/eksotisme-rumah-adat-papua.html


Lanjut........
Rumah adat Papua sebenarnya hanya ada 1 (satu) jenis saja, yaitu Honai itu sendiri. Jika terdapat beberapa perbedaan, hal itu dikarenakan perbedaan daerahnya saja yang tidak mencolok. Dan menurut tradisi masyarakat Papua jenis rumah adat Papua Honai ini dibuat secara berkelompok, kadang satu keluarga membutuhkan lebih dari satu rumah untuk tempat ternak mereka tinggal, dan anak-anak yang sudah dewasa.

Menurut fungsinya rumah adat Papua Honai ini selain menjadi tempat tinggal juga memiliki fungsi lain, seperti ; sebagai tempat penyimpanan alat-alat perang atau pun berburu bagi masyarakat suku Dani, sebagai tempat mengembleng anak lelaki agar bisa menjadi orang yang kuat untuk menjadi dewasa nantinya danberguna bagi sukunya, sebagai tempat untuk menyusun strategi perang jika terjadi peperangan, dan yang terakhir sebagai tempat menyimpan alat-alat atau simbol dari tradisi dan adat suku yang sidah ditekuni sejak leluhur mereka.

Sepertihalnya di halaman depan pemukiman rumah adat Papuat Honai dari suku Dani ini terdapat sebuah galian tanah dan banyaknya tumpukan batu-batu yang merupakan sebuah simbol kehidupan dari masyarakatnya memiliki tradisi adat melakukan upacara batu bakar seperti yang terlihat pada photo di bawah ini.

http://www.ejawantahtour.com/2014/05/eksotisme-rumah-adat-papua.html


Lanjut..........
Bukan hanya memiliki sebuah fungsi sebagi tempat tinggal saja rumah adat Papua Honai ini, namun juga memiliki sebuah simbol pembelajaran  kehidupan bagi masyarakat suku Papua khususnya bagi suku adat Dani yang berada di Papua, Indonesia Timur.

Bila dilihat dari sebuah bangunan arsitekturnya yang melingkar, bangunan rumah adat Papua Honai ini memiliki arti sebagai kesatuan dan persatuan yang paling tinggi sesama suku, serta mempertahankan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur mereka untuk selamanya dengan tinggal di dalam satu rumah adat Honai ini maka akan menjadi satu hati, satu pikiran dan memiliki satu tujuan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

Dan yang terpernting adalah umah adat Honai merupakan sebagai symbol dari kepribadian yang merupakan martbat dan harga diri dari orang Papua yang harus dijaga oleh ketururnan anak cucunya di kemudian hari.

Eksotisme rumah adat Papua merupakan salah satu keunikan khasanah taradisi dan budaya bangsa Indonesia yang tercermin dari banyaknya jenis rumah adat yang ada di Indonesia, dan kita dapat melihat dari dekat di beberapa museum yang tersebar di Indonesia, dan salah satunya adalah di tempat wisata budaya yang bisa kita temukan di wilayah daerah Indonesia.




Salam wisata,

Sumber :
Anjungan Propinsi Papua TMII

MENGENAL SENI UKIR KAYU SUKU ASMAT

http://www.ejawantahtour.com/2014/02/mengenal-seni-ukir-kayu-suku-asmat.html
Mengenal Seni Ukir Kayu Suku Asmat. - Suku Asmat merupakan salah suku tertua yang ada di bagian Timur Indonesia, tepatnya berada di daerah Papua. Nama besar yang di sandang Suku Asmat ini di dunia Internasional membuat saya memiliki keinginan lebih jauh mengenal kehidupan dan kearifan dari salah satu suku yang berada di Papua ini.  Dengan mengunjungi Museum Nasional di kawasan Jakarta Pusat, saya pun mendapatkan informasi banyak tentang tentang Suku Asmat ini.

Masuk dalam area pameran lokasi daerah Suku Asmat di Museum Nasional Jakarta terlihat banyak sekali artefak bersejarah dari Suku Asmat ini di pamerkan. Sebuah perahu panjang yang terbuat dari ukiran kayu yang unik pun saya hampiri. Perahu tradisonal dari suku Asmat ini disebut dengan nama Kole-kole, dengan ukiran ular dengan ciri khas suku asmat di ujung bagian kepala perahunya. Dan perahu ini dipergunakan sebagai salah satu mata pencaharian penduduknya yang berada di daerah pesisir pantai.

Bila saya perhatikan di bagian atas perahu terdapat ukiran-ukiran yang sangat natural bentuknya. Dan perahu ini terbuat dari sebuah pohon yang di buang tengahnya, hingga di tengahnya berbentuk cekungan yang dapat menampung 3 (tiga) samai 5 (lima) orang orang. Itu pun tergantung dari ukuran perahunya. Perahu ini terbuat dari kayu pohon ketapang rawa, dan panjangnya kira-kira 12 meter. Yang unik dan mencuri perhatian saya adalah, dayung dari perahu ini menyerupai tombak dan ujungnya memiliki keunikan ukiran, dan bentuknya menyerupai lesung yang terbuat dari kayu pala hutan. Dari informasi yang saya dapatkan di lokasi untuk membuat dayungnya saja, diperlukan waktu  satu sampai dengan dua minggu. Sedangkan untuk perahunya sendiri jawaban pastinya saya tidak mendapatkan informasinya di lokasi.

Lanjut.................
Dari catatan yang saya dapatkan di kawasan Museum Nasional Indonesia, Suku Amsat terbagi menjadi dua kawasan, yaitu di daerah pesisir dan di daerah pedalaman. Dan kedua populasi suku ini saling berbeda satu dengan yang lainnya dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi Suku Asmat di kawasan daerah pesisir pun terbagi menjadi dua bagian, yaitu Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan Sungai Nin, dan yang satu lagi adalam suku Simai.

Menurut data yang saya baca sekarang ini Suku Asmat populasinya kira-kira ada 100 sampai dengan 1.000 orang yang hidup di satu kampung. dan di setiap kampungnya memiliki rumah Bujang. Di mana rumah bujang ini merupakan rumah adat yang sering di gunakan untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Dan rumah Bujang ini di huni oleh banyak keluarga, yaitu sekitar 2 (dua) - 3 (tiga) keluarga. Rumahnya memiliki kamar mandi dan dapur sendiri. Dan hingga sampai saat ini jumlah total Suku Asmat yang hidup di Indonesia tercatat 70.000 jiwa.

Photo Ukiran Yang Di Sakralkan :
http://www.ejawantahtour.com/2014/02/mengenal-seni-ukir-kayu-suku-asmat.html
Tidak jauh dari tempat saya berdiri telihat dengan jelas sebuah ukiran kayu dari Suku Asmat yang indah, hal ini memperkuat keterangan yang saya dapatkan di lokasi Museum Nasional Indonesia, bahwa orang-orang dari Suku Asmat memang pola hidupnya menyatu dengan alam. Dan mereka sangat menghormati serta menjaga alam sekitarnya.

Melalui patung ini saya mendapatkan keunikan dari keterangan di lokasi, bahwa pohon disekitar tempat mereka hidup, mereka gambarkan menjadi diri mereka. Seperti yang terlihat di patung ini, di mana buah menggambarkan kepala, batang pohon menggambarkan tangan, dan akar menggambarkan kaki. Sungguh cerdas sekali, dan hasil karyanya sangat indah untuk di nikmati.

Lanjut .................
Konon untuk ukiran patung kayu yang paling di sakralkan bagi masyarakat Suku Asmat adalah Patung Bis, namun pada jaman sekarang hasil ukiran tersebut bukan hanya untuk ke sakralan bagi mereka, namun lebih dari itu. Karena patung ini bernilai ekonomis sangat tinggi bagi para penduduk, maka hasil ukiran tersebut biasanya di perjual belikan, dan yang biasa memburu hasil dari patung ukiran ini adalah para wisatawan asing yang datang langsung ke daerah Suku Asmat untuk mengetahui secara langsung kehidupan mereka di sana.

Salah satu ukiran budaya dari Suku Asmat ini merupakan salah satu budaya Indonesia yang di kenal dunia Internasional dan sangat diminati oleh para wisatawan asing, apalagi tentang karakteristik ukiran dengan pola unik dan bersifat naturalis seperti ini. Saya pribadi merasa kagum akan seni ukiran budaya dari suku Asmat ini.

Lanjut............................
Konon menurut informasi yang saya dapatkan melalui pemandu wisata di sini, Masyarakat Suku Asmat dalam hal mengerjakan seni ukirannya itu sangat terkait dengan perjalanan ritual spiritual mereka. karena hal ini menyangkut penghormatan mereka kepada nenek moyang nya. dalam prosesnya pembutanan ukiran mereka tidak sekedar membuat pola dalam kayu, namun mereka mengalirkan sebuah energi spiritual yang mereka hasilkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Model dari ukiran yang dihasilkan dari suku asmat ini, adalah termasuk aliran naturalis. Karena yang menjadi model ukiran kebanyakan dari makhluk hidup seperti burung, ikan, pohon atau pun manusia yang diwujudkan dalam sebuah ukiran patung kayu mereka. Dan hal ini sudah menjadi tradisi, bagi mereka lebih menyatu dengan alam dan dapat mereka rasakan dan hayati secara langsung dalam hal mengadopsi dari pengalaman dan lingkungan hidup sehari-hari sebagai pola seni ukiran kayu yang mereka hasilkan.

Mengenal seni ukiran kayu Suku Asmat bagi saya pribadi sangatlah mengasyikan. Penuh aura karsa dan rasa yang mereka ciptakan dalam hasil seni sebuah karya yang indah dalam hasil yang natural. Banyak pembelajaran yang dapat saya petik disini, salah satunya adalah mereka bukan menaklukkan alam, namun dengan bersinerji dengan alam mereka dapat menciptkan suatu hasil karya yang indah. Dan hal ini sangat terbukti dengan hasil karya seni ukir kayu mereka yang di kenal hingga pelosok dunia Internasional yang memburunya.

Terdiam diri ini sejenak sambil merenungkan diri, seberapa besar kita memiliki keinginan untuk menaklukan alam ini ? Karena alam tidak akan pernah habis dan bisa ditaktuklan dengan kesombongan dan keserakahan, namun alam hanya mampu di senergikan dengan pikiran dan hati yang jernih dari setiap orang yang dapat menghasilkan sebuah karya yang akan dapat bermanfaat untuk dirinya, dan orang-orang di sekitarnya. Itulah benang merah yang saya dapatkan dari perjalanan saya mengenal lebih dekat dari hasil karya seni ukir kayu Suku Asmat ini.

Bila teman-teman dan pembaca setia Ejawantah Wisata tertarik untuk mengenal lebih dekat hasil karya seni ukir kayu dari Suku Asmat, anda dapat berkunjung langsung ke Papua, atau anda dapat mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah di anjungan Papua dan Museum Nasional Indonesia.





Salam wisata,
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus