KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT SUKU BAJO

http://www.ejawantahtour.com/2014/09/kearifan-lokal-masyarakat-suku-bajo.html Kearifan Lokal Masyarakat Suku Bajo.-  Suku Bajo merupakan suku yang dikenal dengan sebutan gypsi laut, dan keberadaannya bukan hanya di Indonesia, namun hingga ke daerah negeri tetangga yaitu Thailand dan Philipina.

Mayoritas masyarakat suku Bajo ini berikar menjadikan laut sebagai sahabat alam dan memilih laut diantara luasnya daratan sebagai tempat penghidupan mereka. Sulawesi bagian dari ribuan pulau di Indonesia yang menjadi salah satu tempat persinggahan masyarakat suku Bajo.

Masyarakat suku Bajo di sini mayoritas telah memeluk agama Islam, dan rata-rata mereka memiliki kehidupan di atas bentang samudera alias sebagai manusia perahu. Perahu kecil yang dijadikan rumah mereka untuk mengarungi lautan yang luas. Dan permukaan laut yang membentang luas menjadi fenomena pemandangan alam di depan rumah mereka.

Di rumah perahu para keluarga dari suku Bajo tinggal, dan mereka tinggal bersama sanak keluarga untuk membangun kebahagian dan mengikuti bisikan hati. Di belakang rumah perahu masyarakat suku Bajo terdapat perahu kecil yang dikaitkan sebagai pelengkap sarana transportasi tambahan. Dan perahu kecil tersebut sewaktu-waktu dapat dilepaskan untuk berburu ikan di laut lepas.

Keterbatasan akan ruang yang ada di rumah perahu, tampaknya tidak dirasakan sempit bagi mereka masyarakat suku Bajo. Bahkan menurut informasi yang saya terima. di dalam rumah perahu tersebut dihuni dengan 3 kepala keluarga yang mempunyai satu keturunan darah.

Lanjut.........
Masyarakat suku Bajo memandang laut sebagai saudara dan setengah kehidupannya mereka habiskan dengan luasnya laut. Bagaikan burung mencari makanan yang bebas, dari ujung ke ujung masyarakat suku Bajo telah menjelajahi kemegahan birunya sang liga. Ilmu kelautan dan cara hidup yang santun menjadi adat tradisi yang terwarisi oleh masyarakat suku Bajo dari nenek moyang mereka.

Bagi masayrakat Bajo laut merupakan media Tuhan dalam membentuk segala keberkahan. Di laut mereka tinggal, mereka dapat makan, mereka dapat menemukan kesenangan, dan di laut pula mereka membuang segala bentuk kesedihan.

Laut yang luas megah dan kaya, ikan yang beranekaragam serta matahari yang berlimpah merupakan simbol kebaikan alam semesta bagi masyarakat suku Bajo yang menawarkan pesona keindahan yang siap memberikan kehidupan bagi mereka yang memahami alam dan turut menjaganya.

Kearifan lokal Suku Bajo memberikan sebuah pembelajaran bagi kita bahwa dengan sikap yang santun serta pemanfaatan alam yang bijak menjadi sentuhan kelestarian setiap keberkahan yang di berikan oleh Tuhan untuk masayrakat suku Bajo ini.

Lanjut.........
Matahari tak pernah berhenti menyapa embun pagi yang selalu menyinari kehidupan mereka. Di atas laut lepas dengan tiang kokoh yang terpancang batu karang masyarakat suku Bajo yang tetap menjunjung tinggi bumi pertiwi Indonesia.

Salah satu kelebihan dan kemampuan dari orang Bajo salah satunya adalah melakukan penyelaman tanpa bantuan alat pernapasan apapun hingga ke dasar laut, namun sekali-kali mereka terlihat muncul kepermukaan air laut untuk menyambung napas untuk meneruskan kembali perburuan ikan di dalam air laut kembali.

Hanya berbekal kacamata renang dan tombak yang khas, orang Bajo mampu berenang hingga ke dasar laut untuk mencari ikan atau pun kerang hanya seperlunya sebagai memenuhi kebutuhan kehidupan mereka hari ini dan esok hari.

Berapapun jumlah hasil tangkapan ikan, mereka selalu menyapa dengan sebuah senyuman sebagai umpan balik yang terbaik untuk lautan luas yang senantiasa memenuhi segala kebutuhan kehidupan masyarakat suku Bajo.

Lanjut..........
Bila tidak mengembara di laut, orang Bajo singgah di daerah yang memiliki gelombang ralativ tenang di sebuah teluk yang memiliki daratan. Seperti di lokasi inilah mereka mendirikan rumah-rumah panggung sederhana sebagai tempat persinggahan mereka, ketika rumah-rumah perahu mereka berlabuh.

Selain melaut masyarakat suku Bajo juga kerap menggarap sepetak lahan ladang untuk menanam umbi-umbian dan sayuran yang mereka butuhkan sebagai pelengkap makan keluarga. Kosep hidup sederhana dan peyelarasahan dalam sebuah kearifan lokal tradisi masyrakat suku Bajo atau orang sama berjuang mempertahankan kehidupan mereka.

Namun, dari semua potret kearifan lokal masyarakat suku bajo ini ada yang menarik perhatian bagi diri saya di lokasi ini. Di mana dibawah langit dan teriknya matahari mereka selalu teguh menjadi saksi bahwa rahmat Tuhan tidak akan pernah berhenti. Langkah maju yang tidak pernah terhenti, kokoh berdiri menatap langit merupakan wujud dari kepercayaan diri bagi mereka. Meski lautan menjadi tanah air bagi mereka yang tidak berteritorial namun, nama Indonesia tetap di hati sanubari masyarakat suku Bajo ini.

Kearifan Lokal Suku Bajo mengajarkan kepada kita bahwa manusia dan alam merupakan sebuah keserasian Mahakarya Tuhan Yang Maha Esa.  Di mana manusia sebagai simbol keberlangsungan dan keharmonisan kehidupan alam raya sebagai sahabat tempat penghidupan yang selalu diisi dengan sebuah senyum ringan tanpa beban, hidup bersama alam tanpa kesulitan yang menjadikan sebuah barometer cinta kasih mereka terhadap alam. Itulah sebuah pembelajaran dari Kearifan Lokal Masyarakat Suku Bajo.[]


Salam wisata,

Sumber Photo : www.nature.or.id

Pulau Menui: Wisata Sejarah Asal Mula Pulau Menui

http://www.ejawantahtour.com/2014/09/pulau-menui-wisata-sejarah-asal-mula-pulau-menui.html Pulau Menui: Wisata Sejarah Asal Mula Pulau Menui.- Pulau Menui terletak di Kecamatan Kepulauan yang berbatasan dengan wilayah Kecamtan Bungku Selatan dan Teluk Banda di sebalah utara, di sebelah selatan  pulau ini berbatasan dengan wilayah Provinsi Sulawsi Tenggara, sebelah timur berbatasan dengan  perairan Laut Banda, dan di sebelah barat berbatasan dengan wilayah Provinsi Sulawesi tengara.

Pulau Menui bisa dikatakan merupakan kawasan wisata maritim, karena kawasan ini terletak antar desa dan kelurahan yang dapat ditempuh melalui jalur darat maupun laut. Ibu kota Kecamatan Menui terletak di Desa Ulunambo yang merupakan wilayah strategis untuk seluruh aktifitas di Kecamatan.

Konon menurut cerita dan catatan sejarah di kawasan Pulau Menui dulunya pulau ini ditemukan oleh seorang pedagang dari Kerajaan Bone pada abad ke-14 dalam perjalanan pulang dari Maluku. Dan pada masa itu Kerajaan Bone menjalin hubungan dagang dengan Maluku.

Lanjut cerita.....
Pulau Menui yang pada saat itu merupakan wilayah yang memiliki posisi strategis sebagai tempat persinggahan pulang pergi dari Bone-Maluku dan sekitarnya. Setelah para pedagang tersebut mengelilingi Pulau Menui, ternyata tidak ada tanda-tanda bahwa pulau itu dihuni oleh manusia.  Dan pada saat itu Pulau Menui masih terlihat sangat asri alamnya dan banyak pohon tropis yang tumbuh di ata bebatuan yang tajam.

Pada saat mereka mengelilingi Pulau Menui, suara ayam berkoko dari kejauhanpun terdengar, dan berkatalah dianatara mereka. Menue (ayam). Dan pada akhirnya pulau ini dinamakan dengan Pulau Menui.

Versi cerita sejarah mengenai asal mula Pulau Menui tersebut di atas. Sampai saat cerita tersebut masih bisa kita dapatkan di kawasan Pualu Menui. Bahkan kita akan mendapatkan cerita unik lainnya dari kisah sejarah tentang asal mula Pual Menui dari versi yang berbeda, inilah yang saya dapatkan dari versi cerita tersebut.

Lanjut cerita asal mula Pulau Menui versi ke-2.........
Pulau Menui yang konon dulunya merupakan pulau besar dan terbagi menjadi tiga bagian yang diperintah oleh tga orang raja bersaudara dengan sebutan makoleniti yang berarti "bangsawan yang turun dari kayangan".

Ketiga raja tersebut diturunkan dari kayangan ke sebuah tempat yang diebut Fafongkulasi yang berarti puncak gunung tertinggi di pedesaan Torokuno, dengan membawa pusaka sebuah gong putih besar yang disebut Tafa-tafa Bula berkepala emas.

Wilayah ketiga raja tersebut tersebar di beberapa titk,  yang tertua bermukim di Fafono atau Fafongkulai, yang kedua bermukim di Menui timur atau Menui Pandua, dan yang ke tiga memerintah di Duhaka.

Sedangan untuk versi cerita asal mula Pulau Menui yang ke-3........
Penduduk asli Pulau Menut adalah keturunan dari Tolaki yang dikenal dengan sebutan Konafe. Pulau Menui pertama kali didiami oleh Mokole.Tirau dari Konafe dan Mokole Pangulele dari Sampara Kerajaan Tolaki atau Konafe.

Di anatar Desa Matano dan Matarape terdapat sebuah lubang yang berisi air tawar kecil, airnya pun dapat di timba dan diambil dengan menggunakan tangan. Konon menurut cerita, ketika Mokole kehabisan air dan tidak dapat mengambil air, lantas kapalnya berlabuh, dan Mokole turun kedarat lalu menusukkan tongkatnya ke tanah. Dan ajaibnya, dari hasil tusukan tongkatnya itu keluarlah air dari dalam tanah, dan sampai hari ini airnya masih bisa dimanfaatkan oleh para nelayan atau pelayar bila kekurangan air.

Pada akhirnya Pulau Menui dan sekitarnya dikuasai oleh Kerajaan Bungku, maka berdatanganlah penduduk baru dari suku Bungku, suku Buton dan Suku Tolaki. Dari penduduk baru inilah masyarakat Pulau menui berkembang melalui pernikahan dan pembauran dengan penduduk asli.

Konon, penemuan orang Menui asli yang pertama di lakukan oleh Kerajaan Bungku, yaitu di Fafongkulai atau Turukuno. Di tempat ini terdapat delapan gubuk atau pondok kecil dengan ketua adatnya adalah Bongkoliki kemudian dilantik dan diangkat menjadi Sangaji Suku Fafongkulai atau Tutukuno yang pertama untuk mengetuai dan memimpin penduduk asli Menui dalam melanjutkan pemerintahan Kerajaan Bungku.

Tembe dibangun sebuah perkampungan oleh Mokole Kasilainafa sebagai pemimpin orang Bungku pertama yang menemukan Pulau Menui yang diperintahkan untuk mendiami dan mengatur pemerintahan bersama keluarganya.

Kemudian Mokole  Paisusu dan Mokole Satofa  yang dilantik oleh Raja Laupeke dan anak Mokole Igalu yang bernama Abdul Razak kemudian menjadi Raja Bungku pada tahun 1931 - 1937 di Bangku.

Tokoh-tokoh yang pernah memegang pemerintahan sebagai Sangaji atau Kapita pada zaman Kerajaan Bungku sampai masuknya penjajahan Belanda adalah Bongkoliki, Muara, Laoreo, Lagarasi, Baraimani, Leusu, Maluarga, dan Maligasi.  Sedangkan untuk Tokong yang terkenal dan menonjol pada masa itu adalah Sangaji Lagarasi dan Kapita Baraimani.

Bukan hanya pemandangan yang unik dan masih asri bisa kita temukan di tempat wisata di Pulau Mnui, lebih dari itu kita pun akan mendapatkan cerita dari keunikan dengan beragam warna versi cerita dai kisah yang dituturkan di daerah Pulau Menui: Wisata Sejarah Asal Mula Pulau Menui.[]


Salam wisata,

Sumber : Ensiklopedi Cerita Rakyat.

MENIKMATI PESONA KEINDAHAN PULAU SAMALONA

http://www.ejawantahtour.com/2014/07/menikmati-pesona-keindahan-pulau-samalona.html Menikmati Pesona Keindahan Pulau Samalona.- Pulau Samalano yang terletak tidak jauh dari Makasar, Sulawesi Selatan dapat di tempuh dengan menggunakan jalur penyebrangan dari dermaga benteng Penyua dengan menggunakan kapal perahu dengan jarak tempuh +/- 30 menit. Dan selama perjalanan penyebrangan kita dapat menikmati keindahan selat Makasar dari atas perahu.

Namun, di lokasi dermaga ini kemampuan kita dalam hal tawar menawar sewa perahu sangatlah di butuhkan. Karena untuk sewa kapal perahu untuk penyebrangan di lokasi ini dibandrol dengan harga Rp. 800.000,- untuk pulang pergi ke pulau Samalona dan kembali ke dermaga. Bila kita beruntung kita akan mendapatkan harga sewa perahu setengah dari harga yang ditawarkan.

http://www.ejawantahtour.com/2014/07/menikmati-pesona-keindahan-pulau-samalona.html

Pesona keindahan Pulau Samalona sangat memukau hati bagi siapa saja yang mengunjungi pulau ini. Hamparan pasir putih, air yang jernih merupakan destinasi wisata yang berada di Pulau Samalona. Keindahan dan ketenangan Pulau Smalona bagaikan keindahan surga yang ada di belahan dunia yang membuat kita betah bila berkunjungke pulau ini.

http://www.ejawantahtour.com/2014/07/menikmati-pesona-keindahan-pulau-samalona.html

Indahnya warna biru air laut di Pualu Samalona akan menemani kita untuk menikmati keindahan dalam air sambil bersnorkling dalam air dengan menyaksikan ikan-ikan yang berenang di antara terumbu karang laut yang indah. Berbagai warna corak warna yang bermain dan menyelinap di terumbu karang seakan menggoda dan mengajak kita untuk larut dalam keindahan air laut.

http://www.ejawantahtour.com/2014/07/menikmati-pesona-keindahan-pulau-samalona.html

Menikmati pesona keindahan Pulau Samalona tidak terlepas dari kearifan masyarakat lokal itu sendiri. Dari informasi yang saya dapatkan di lokasi pulau ini hanya di huni atau di tempatkan oleh beberapa kepala keluarga, dan bila di hitung angka hanya +/- 17 Kepala Keluarga. Dan dari setiap keluarga di Pulau ini memiliki rata-rata 2 rumah, di mana 1 rumah untuk ditempati keluarga mereka dan yang satu lagi untuk disewakan oleh para wisatawan yang berkunjung ke Pulau ini.

Sedangkan untuk harga sewa penginapan di lokasi Pulau Samalona ini yang ditawarkan sangat beragam, dari harga Rp. 600.000,- / malam sampai Rp. 700.000,- / malam. Harga tersebut untuk kelas pengnapan sewa rumah penduduk setempat.

Selain rumah penduduk di Pulau Samalona ini juga ada satu penginapan yang dusah dikelola secara profesional yang bisa kita gunakan. Dan untuk biaya satu kamar penginapannya di lokasi ini sekitar Rp. 1.000.000,- / malam. Namun, pengnapan ini pun memberikan kesempatan bagi kita yang hanya menggunakan untuk waktu setengah hari dengan harga yang di tawarkan setangah dari harga yang berlaku untuk satu malam.

Sedangkan untuk tenaga listrik di Pulau Samalona ini diperoleh dari generator yang baru dihidupkan setelah matahari terbenam aatu sore hari. Jadi janganlah heran bila wakti siang hari kita akan merasakan kesulitan untuk mendapatakn aliran listrik di Pulau Samalona ini.

Menelusri sambil menikmati pesona keindahan Pulau Samalona ini kita tidak akan mengalamai kepalaran, karena di pulau ini kita akan banyak menemukan aneka makanan dan ajajanan sederhana yang bisa kita jadikan pilihan menurut selera.

Namun jangan kaget apalagi harga jajanan dan makanan di Pulau ini harganya lebih mahal, karena aneka bahan baku yang digunakan untk memasak, harus mereka beli di Kota Makasar yang memmerlukan biaya transportasi cukup mahal.Untuk satu porsi makanan berupa nasi, sayuran, dan lauk serta sambel bisa kita nikmati dengan harga Rp. 30.000,-/ porsi. Tentunya makanan ini sangat khas dengan rasa dan  masakan dari masyarakat lokal.

Bagi teman-teman dan pembaca setia Ejawantah Wisata yang sedang berlibur di Kota Makasar, tidak ada salahnya bila kita berkunjung dan berwisata ke Pulau Samalona ini, di mana pulau ini sangat kecil dan masih terlihat asri dan bersih, kita akan melihat keindahan alam pantai mutiara di timur Indoensia dengan dilayani oleh masayrakat lokal yang ramah tamah untuk Menikmati Pesona Keindahan Pulau Samalona.[]





Salam wisata,

MENIKMATI WISATA WAKATOBI

http://www.ejawantahtour.com/2014/07/menikmati-wisata-wakatobi.html Menikmati Wisata Wakatobi. - Kawasan Kabupaten Wakatobi yang memiliki keindahan surga bawah laut paling indah di dunia, gugusan pulau yang terletak di sebelah tenggara Sulawesi. Konon, nama dari Wakatobi sendiri diambil dari sebuah nama kependekan dari 4 kecamatan yang ada di gugusan pulau-pulau tersebut yaitu Wangi wangi, Kaludupa, Tomia dan Binongko.

Keindahan alam di kawasan Wakatobi yang membentang luas, dan menjadi tempat populasi keanegaraman biota laut dan spesies trumbu karang yang mencapai 750 spesies dari 850 spesies trumbu karang yang ada di sunia, sehingga UNESCO menetapkan kawasan Wakatobi sebagai Taman Nasional yang menjadi cagar biosfer dunia bersama 12 cagar biosfer lainnya di dunia.

Hal tersebut menjadikan kawasan daerah Wakatobi menjadi dikenal di dunia internasional dan membuat para wisatawan mancanegara datang mengunjungi dan menikmati wisata Wakatobi dengan melakukan penyelaman di dasar laut atau pun dengan bersantai di daerah pesisir pantai Wakatobi ini.

Bila kita akan menikmati keindahan Wakatobi kita bisa menggunakan jalur udara dan jalur laut. Untuk menggunakan jalur udara kita dapat memilih penerbangan dengan menggunakan pesawat dari Manado menuju Kabupaten Wakatobi. Sedangkan untuk melalui jalan laut kita bisa menggunakan penyebrangan dengan menggunakan kapal laut dari Makasar menuju Wakatobi.

http://www.ejawantahtour.com/2014/07/menikmati-wisata-wakatobi.html

Untuk penginapan di kawasan daerah Wakatobi sudah banyak dibangun penginapan, dari penginapan lokal yang dikelola oleh warga alias rumah warga, maupun penginapan berupa resort yang dikelola oleh swasta dan pemerintah sebagai sarana penginapan bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara, semua bisa kita pilih sesuai dengan selera kebutuhan kita untuk menikmati keindahan Wakatobi yang dikenal sebagai salah satu surganya dunia.

Sebagai informasi tambahan, bagi teman-teman ataupun pembaca setia Ejawantah Wisata yang akan mengunjungi dan melakukan wisata wakotobi, untuk menemukan dan medapatkan penginapan yang murah dan pemandu wisata yang tepat kita bisa menghubungi  kantor WWF-Indonesia di kawasan Wakatobi yng beralamat di Jl. Jenderal Sudirman, Dusun Mandati II. Kecamatan Wangi-wangi Selatan. Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Di bawah ini teman-teman dan pembaca setia Ejawantah Wisata dapat menikmati keindahan wisata wakatobi Sulawesi Tenggara melalui penayangan video.



Hamparan pasir putih serta nyiur melambai dari setiap dahan pohon kelapa di daerah pesisir pantai Wakatobi merupakan keindahan alam pantai yang eksotis dan bisa kita nikmati pada saat kita mengunjungi kawasan wakatobi di daerah Sulawesi Tenggara, Indonesia. Bagi teman-teman dan pembaca setia Ejawantah Wisata yang akan menikmati salah satu keindahan surga dunia, tidak ada salahnya destinasi di daerah Wakotabi ini bisa menjadi pilihan alternatif untuk kita Menikmati Wisata Wakatobi.[]




Salam wisata

TANA TORAJA PANORAMA KLASIK KEINDAHAN BUDAYA DAN TRADISI INDONESIA

http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/07/tana-toraja-panorama-klasik-keindahan.html
Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia
Tana Toraja merupakan salah satu daerah lembah subur dengan sawah yang hijau dan perkebunan kopi yang subur, lokasi yang menyimpan daya magis dalam kultur extravaganza berbentuk bebatuan megalitik Lore Lindu. 

Makasar melalui Bandara Sultan Hasanuddin merupakan daerah pintu masuk menuju Tana Toraja. Dari Bandra Sultan Hassanuddin di Makasar terdapat dua pilihan transportasi yang dapat membawa kita ke Tana Toraja, yaitu dengan menggunakan pesawat kecil yang berkapasitas 24 orang atau menyewa mobil dengan menggunakan jalan darat.

Jalan dari Makasar menuju ke Tana Torja sepanjang pantai +/- 130 km, dan berakhir di daerah pegunungan. Setelah memasuki daerah Tana Toraja di Pasar Mebali, maka kita akan memasuki pemandangan batu granit berwarna abu-abu dan pegunungan berwarna biru. Keindahan ini yang terbalut dalam hijaunya suasana pemandangan alam pegunungan yang ada di sekitarnya.

Bila kita menuju ke daerah Tana Toraja, kita akan mendengar dan melihat  situs-situs makam yang terpelihara dalam bingkai adat budaya yang memiliki masyarakat Tana Toraja terjaga dengan rapih hingga sekarang.

Situs makam pahat di Lemo, makam goa purba di Londa, menhir di Rante Karasik, dan perkampungan Kete Kesu, semua objek-objek ini masih terjaga dan terawat dengan rapih oleh masyarakat Tana Toraja. 

Tradisi Ma'nene masyarakat Tana Toraja merupakan suatu tradisi upacara budaya masyarakat Tana Toraja Menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Hal ini merupakan suatu upacara ritual adat masyarakat Tana Toraja dalam prosesi pemakaman.

Konon cerita tentang tradisi Ma'nene sudah ada sejak jaman leluhur mereka. Hingga kini ritual prosesi pemakaman seperti ini masih ada dan bisa disaksikan dengan mata telanjang di daerah Tana Toraja.

Dataran tinggi Tana Toraja selalu memberikan pesona alam yang menakjubkan, seiring bersama dengan daya tarik kehidupan masyarakatnya yang telah mempertahankan kepercayaan dan tradisi mereka dalam siklus kehidupan yang kekal dengan kematian di Bumi.

Kisah Tana Toraja.............
Informasi yang penulis dapatkan dari beberpa sumber, konon bangsawan Toraja diyakini memiliki garis keturunan dewa. Dewa yang turun melalui anak tangga surgawi untuk menetap di bumi dengan keindahan alamnya. Untuk menjaga kekuatan tanah dan rakyatnya, Masyarakat asli Tana Toraja percaya bahwa tanah ini dipertahankan melalui ritual untuk merayakan mereka yang hidup dan yang telah meninggal dunia. Di daerah Tana Toraja kehidupan secara ketat dipisahkan dari upacara kematian.

Toraja terkenal dengan upacara tradisi kematian yang dapat berlangsung selama berhari-hari yang melibatkan penduduk desa. Bukan hanya pada saat berkabung, namun juga untuk acara persaudaraan komunitas yang ada di daerah tersebut.


Menurut informasi yang penulis terima, upacara kematian diadakan setelah musim panen selesai. Biasanya di lakukan pada bulan Juli dan September. Sementara upacara kehidupan digelar saat musim tanam di bulan Oktober. Pada waktu tersebut untuk penguburan tidak dilakukan dengan segera, namun ditunda selama beberapa bulan bahkan kadang ada yang bertahun-tahun disimpan di rumah khusus hingga waktu yang tepat dan ketersediaannya dana bagi keluarga yang ditinggalkannya.

Londa, Lemo dan Tampang Allo merupakan tempat-tempat yang  terkenal sebagai pemakaman di dinding berbatu dan gua-gua yang dipenuhi peti mati dan tulang-tulang manusia. Bagi Anda yang akan masuk ke dalam are tersebut tidak perlu takut asal jangan sekali-kali kita memiliki keinginan untuk membawa dan mengambil tulang belulang yang berada di tempat tersebut.

Bagi para sahabat yang tertarik akan keunikan budaya dan ritual masyarakat Tana Toraja, yang semuanya berpusat pada upacara penguburan, datanglah pada bulan Juni, Juli atau Desember untuk menjadi saksi penyembelihan puluhan kerbau dan babi secara kolosal oleh para penjagal. 

Kita akan menyaksikan bagaimana keunikan dan kesakralan adat istiadat di tempat tersebut. Kerbau bagi masyarakat Tana Toraja merupakan hewan qurban pada saat upacara kematian, di samping babi. Menurut kepercayaan, arwah kerbau menjadi sarana transportasi bagi arwah yang meninggal untuk menuju puya, yaitu tempat peristirahatan yang terletak di selatan tempat tinggal manusia.

Upacara kematian Rambu Solo'..........
Dimana keluarga yang ditinggalkan membuat pesta sebagai tanda penghormatan kepada yang meninggalkan. Pesta ini mulai berlangsung satu malam bahkan hingga tujuh malam dengan menyembelih berpuluh-puluh ekor kerbau dan babi, hal ini tergantung strata sosial dalam masyarakat Tana Toraja.

Rumah dan adat Tana Toraja.......
Untuk melihat tempat tinggal orang Toraja kita bisa berkunjung ke daerah Desa Ke'te Kesu'.  Dimana di desa tersebut kita akan dapat menemukan deretan Tongkonan (rumah khas Toraja) yang dihias dengan indahnya lumbung padi, dan beratap mirip pelana atau mengingatkan kita pada tanduk kerbau. Atapnya  terbuat dari bambu yang dibelah dan disusun bertumpuk, namun saat ini sudah banyak yang menggunakan seng.

Tongkonan memiliki strata sesuai kebangsawanan masyarakat sepeti strata emas, perunggu, besi, dan kuningan. Dinding rumah tradisional ini dihiasi pola abstrak dan geometris dengan warna alami, merah, dan putih. Ke'te Kesu juga dikenal dengan ukiran bambu dan kerajinan tradisional.

Lemo merupakan kawasan perkuburan khusus bagi para bangsawan. Kawasan perkuburan ini yang memiliki gua batu besar yang berbentuk bundar menyerupai buah jeruk, dan liang-liang kuburnya membentuk bintik-bintik pada buah jeruk tersebut. Konon kuburan yang tertua di Lemo ini adalah kuburan seorang tertua adat yang bernama Songgi Patalo yang berumur 500 tahun.

Di daerah Suaya terdapat makam keluarga raja, dan di dekat Sangalla ada kuburan pohon bayi. Bagi kepercayaan mayarakat Toraja kuno meyakini bahwa bayi dan anak-anak yang mati harus dikubur di sebuah pohon, dimana pohon akan tumbuh di sekitar mayat.

Pohon tersebut namanya adalah pohon Tarra,  Jadi bayi yang meninggal akan dimasukkan ke dalam lubang yang terdapat di dapalm pohon tersebut, kemudian lubangnya akan ditutup dengan ijuk.

Konon, peletakkan  mayat bayi pun tergantung tingkat deratnya, kalau dia berasal dari keluarga yang derajatnya tinggi maka posisinya terletak di pohon yang tinggi, dan sebaliknya. Untuk lubangnya dihadapkan dengan arah rumah orang tua si bayi.

Itulah sekilas tentang keunikkan tradisi budaya masyarakat Toraja yang sampai dengan sekarang ini, masih terjaga dengan rapih dan mereka jalankan.

Wisata belanja di Tana Torja...........
Untuk objek wisata belanja di daerah Kabupaeten Tana Torja, kita dapat menemukan beragam bentuk hasil produk kreatifiast masyarakat Tanah Toraja. Dari hasil perternakan hingga hasil produktif masyarakatnya Tana Torja.

Bagi yang akan melalukan perjalanan menuju pusat tenun Toraja, kita dapat ke daerah Palawa. Dimana di daerah tersebut kita akan menemukan pusat tenun Toraja dan desa adat untuk menyaksikan rumah tradisional tongkonan dari kawasan penguburan sekaligus tempat untuk melakukan upacara dan festival. Dan bagi para sahabat Ejawantah Wisata yang akan melihat pasar tradisional dengan segala keunikannya bisa datang ke Pasar Bolu Tana Toraja di kawasan pasar tersebut anda dapat menikmati wisata belanja jajanan pasar tradisional dari Tana Toraja.

Untuk mempermudah akses perjalanan darat kita tidak salahnya kita mencari informasi tempat penyewaan mobil di daerah setempat. Dan untuk mencari tempat penginapan anda dapat mengunjungi halaman Hotel di Tana Toraja dengan harga relatif murah sesuai keperluan dan kebutuhan anda.

Alam pegunungan Tana Toraja yang indah cukup terisolasi dari dunia luar ternyata mampu meramu khazanah kebudayaan yang membuat dunia internasional terkagum melihatnya. Dan hal ini hanya terdapat di daerah Tana Toraja Indonesia, Selawesi Selatan, Indonesia.


Salam wisata,

WISATA BELANJA DI PASAR BOLU TANA TORAJA

Wisata Tana Toraja tidak lengkap bila kita tidak membeli buah tangan atau pun oleh-oleh khas dari masyarakat Tana Toraja. Bagi sahabat yang akan melaukan wisata belanja di daerah Tana Toraja, para sahabat dapat berkunjung ke salah satu Kecamatan daerah Rantepao, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Dimana daerah Rantepao ini kita akan dapat membeli barang-barang khas Tana Toraja seperti pakaian, tas, dompet, dan kerajinan lainnya. Untuk kopi khas Tana Torja yang terkenal dengan kualitas kopi dan aromanya yang khas seperti Robusta dan Arabika kita bisa menemukan di pasar tradisional Bolu di dareah Rantepao.

Di pasar tradisonal Bolu ini kita juga dapat menemukan kalung manik-manik antik nan indah buatan asli masyarakat Tana Toraja. Dan,,,,,,, jangan lupa menyaksikan tradisi jual beli unik mingguan untuk melihat transaksi kerbau dan babi yang sedang dilelang pada saat pasar mingguan di area ini. Kerbau atau tedong dan babi, banyak di perjual belikan di area pasar ini hingga mencapai lebih dari 500 ekor. Suatu pemandangan atraksi jual beli unik dan menarik yang dapat kita saksikan di pasar ini.

Pasar Bolu juga merupakan salah satu pasar pusat  kerbau terbesar di dunia. Di karenakan di pasar ini terdapat pasar hewan kerbau yang di perjual belikan setiap minggunya. Dan yang menjadi tolak ukur nilai jualnya, kerbau-kerbau tersebut dilihat dari warna kulit, bulu, postur, tanduk, dan tanda-tanda di bagian tubuh lainnya. Dan untuk jenis-jenis kerbau yang di perjual belikan adalah, :

  1. Kerbau Saleko, yaitu jenis kerbau bule yang dikenal dengan harga yang mahal. Harga kerbau ini bisa mencapai ratusan juta rupiah.
  2. Kerbau Bonga,  yaitu jenis kerbau yang memiliki postur kepala yang mirip dengan kerbau Saleko, dan postur tubuhnya berwarna hitam atau kelabu.
  3. Kerbau Teken Langit, yaitu jenis kerbau yang memiliki tanduk silang ( satu menghadap ke atas dan yang satu lagi menghadap ke bawah).
  4. Kerbau Balian, yaitu jenis kerbau dari hasil pengkebirian.
  5. Kerbau Kudu, yaitu jenis kerbau berwarna hita biasa dan harganya paling murah dari jenis kerbau lainnya.
Dalam masyarakat Tana Toraja kerbau memiliki peranan penting bagi strata budaya kehidupan meraka. Hal ini dijadikan simbol strata ekonomi atau disebut dengan nama "tedong" sebagai simbol kemakmuran untuk masyarakat Tana Toraja. Tidaklah heran jika pada saat upacara adat kematian atau yang dikenal dengan nama "Rambu Solo" hewan inilah yang menjadi tolak ukur kemakmuran bagi keluarga yang mengadakan upacara adat tersebut.

Dan untuk jual beli hewan babi di pasar tradisional ini harganya pun bervariatif, tergantung ukuran jenis babi yang akan diperjual belikan. Namun, untuk babi yang memiliki corak warna belang pada postur tubuhnya harganya lebih murah dari pada harga hewan babi yang memiliki postur tubuh yang berwarna hitam pekat.

Bagi sahabat dan kerabat yang akan melakukan perjalanan wisata Tana Toraja penulis menyarankan agar mengetahui objek-objek wisata Tana Toraja yang akan menambah wawasan pengetahuan kita sebelum kita berkunjung ke Tana Toraja. Di kawasan pasar Bolu Tana Toraja ini, anda juga dapat melakukan perjalanan wisata belanja kuliner jajan pasar dari hasil produksi daerah sekitarnya.

Untuk di daerah pasar tradisional setempat kita akan temukan buah-buahan unik seperti tamarella atau terong belanda dan makanan khas masyarakat Tana Toraja di sana. Di daerah Tana Toraja ini kita juga dapat menikmati wisata kuliner Tana Toraja.

Untuk mempermudah kita dalam melakukan perjalanan wisata Tana Toraja, saran penulis sebaikmya kita mencari informasi tempat sewa mobil untuk melakukan perjalanan wisata Tana Toraja bila kita akan melakukan perjalanan bersama keluarga.

Wisata belanja Tana Toraja akan lebih nikmat bila kita bisa melakukannya bersama keluarga dan kerabat pada saat melakukan perjalanan wisata Tana Toraja, dengan mempersiapkan perjalana dan mendapatkan informasi penginapan Hotel di Tana Toraja maka kita dapat mengatur waktu luang perjalanan untuk menikmati kawasan Tana Toraja.



Salam wisata,
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus